Saya adalah salah satu relawan
Rumah Tarsan (Rumah Pintar Perbatasan) yang terletak di pelosok perbatasan
Kabupaten Trenggalek-Ponorogo, tepatnya di Dusnu Nglengkong, Desa Dermosari,
Kecamatan Tugu Kabupaten Trenggalek. Kami memang menyebutnya perbatasan.
Letaknya yang jauh dari jangkauan kota membuat Dusun Nglengkong memiliki keterbatasan akses
informasi maupun akses kebutuhan bacaan. Sebagai relawan, saya merasa sangat senang
ketika beberapa teman dari kampus menggandeng Rumah Tarsan untuk mengenalkan
Bahasa Inggris kepada Adik-adik pembaca Rumah Tarsan melalui Outdoor Study.
Jauh-jauh hari kami sudah
memberitahukan bahwa kegiatan akan dilaksakanan pada 07 Juni 2015, pukul 08.00
WIB-selesai. Tak disangka adik-adik sudah berkumpul sejak pukul 07.00 WIB. Sikap
antusias yang ditunjukkan Adik-adik semakin membakar semangat kami.
Sebelum berangkat mengelilingi rute yang telah ditentukan, kami
mengajak Adik-adik berkenalan dengan Bahasa Inggris melalui game. Semua harus
menyanyi cap, cip, cup dan dimana
nyanyian berhenti, anak itulah yang harus memperkenalkan diri menggunakan
Bahasa Inggris. Begitu seterusnya, sampai semua mendapat giliran.
Setelah itu kami berangkat
menjelajah. Di perjalanan kami mengajak Adik-adik bernyanyi supaya perjalanan
tidak terasa melelahkan. Setiap benda yang kami temui, kami akan mengatakannya
dengan Bahasa Inggris. Misalnya ada pohon kelapa, kami akan bilang “This is coconut” yang akan ditirukan
oleh adik-adik.
Ada tiga spot yang telah kami
tentukan untuk explore pengetahuan
adik-adik. Pada spot pertama kami berhenti di sawah. Kami mencoba membuka
wawasan Adik-adik tentang padi di sawah yang dihasilkan oleh petani. Kami ingin
menanamkan sikap bangga kepada mereka akan pekerjaan orangtuanya yang mayoritas
sebagai petani. “If there are no farmers,
there are no rice we can eat. So, farmers are great, Your parents are great,
right?” yang kami sambung dengan makna kalimat tersebut. Adik-adik
menggunt-manggut mendengarkannya sebagai tanda setuju.
Pada spot kedua kami berhenti di
sungai. Kali ini kami mengajak ikut berdiskusi mengenai asal-usul, manfaat dan
apa yang harus dilakukan untuk menjaga sungai. Pada spot ketiga kami berada
pada bukit. Dari sana kami dapat melihat perbukitan yang lain. Kami mengajak
adik-adik untuk berfikir kritis mengenai penebangan pohon liar. Ternyata
adik-adik sangat aktif menjawab. “Seharusnya pohon-pohon tidak boleh ditebang,
karena kata Pak Guru pohon membuat oksigen. Kalau pohonnya habis, nanti kita
tidak bisa bernafas.” Begitu tutur Rahma, salah satu dari adik-adik yang ikut Outdoor Study.
Untuk menambah keseruan Outdoor
Study, kami bersama adik-adik membuat kincir angin yang berbahan dasar
botol air mineral. Lalu kami hadapkan berlawanan dengan angin, supaya kincirberputar. Dan, berhasil.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar